Kamis, 25 Juni 2020

Cerpen "PLAT MOTOR"

PLAT MOTOR
OLEH :  NABILAH SEPTIANINGSIH


Gedubraakk!!
“Aduh!” Aku memekik kesakitan saat tubuh dan sepedaku terjatuh tepat di tikungan jalan menuju rumahku. Sepeda motor yang kutabrak tadi juga terjatuh. Dua orang penumpangnya terhempas ke parit di pinggir jalan. Begitu kerasnya sepeda motor itu terjatuh sehingga plat motor di bagian depannya terlepas.
“Anak kecil, kalau naik sepeda jangan melamun dong!” omel penumpang motor sambil berdiri dan memungut helmnya yang sempat terlempar.
“Mata kamu dipakai dong!” timpal pengendara motor dengan kasar sembari berdiri. Ia berjalan ke arahku dengan gerakan seperti orang hendak memukul. Namun,temannya segera menahan tangan orang itu sambil menggelegkan kepala, melarang dia memukulku.
“Ma…maaf, Om…” kataku agak takut, sambil duduk memegangi lututku karena kecelakaan itu memang salahku. Aku mengayuh sepeda terlalu kencang sehingga tidak terlihat sepeda motor yang muncul tiba-tiba dari balik tikungan.
Tanpa berkata apa-apa lagi, kedua orang itu segera kembali melajukan sepeda motornya dengan kencang. Fuuuhhh….Aku menghela nafas lega. Aku berusaha berdiri sambil menahan sakit pada kedua lutut dan lenganku.
Tiba-tiba, mataku tertuju ke arah plat motor yang tergeletak di tengah jalan. Segera aku berbalik, hendak memanggil kembali kedua orang yang kutabrak tadi. Namun, motor itu sudah tidak tampak dari pandanganku. Akhirnya kuambil plat motor itu dan membuangnya ke bak sampah di tepi jalan.
Aku mengayuh kembali sepedaku pelan-pelan. Tangan dan kakiku masih sakit sekali. Untunglah rumahku sudah dekat dari tikungan tempat kecelakaan tadi. Setiba di rumah, Bunda tampak khawatir melihat lutut dan lenganku yang berdarah. Bunda segera mengobati lukaku sambil menasehatiku agar hati-hati.
Setelah itu aku menghabiskan sepanjang siang di depan televisi. Hoaaheeeem…Aku menguap. Semilir angin dari kipas angin menghembus tubuhku, membuat mataku terpejam, dan melupakan sejenak rasa sakit lukaku.
Entah sudah berapa lama aku tertidur saat kudengar suara Ayah dan Bunda. Mereka sedang serius bercakap di teras depan tentang perampokan. Samar-samar aku menangkap pembicaraan mereka. Rumah pak Teguh, tetangga sebelah rumah, dimasuki perampok tadi siang. Rumahnya acak-acakan. Uangnya hilang dari lemari kamarnya. Istri pak Teguh terluka parah karena ulah perampok.
Hah? Terluka parah? Aku segera duduk tegak di sofa. Terbayang olehku hal-hal menyeramkan seperti yang sering aku lihat di berita kriminal di televisi. Sayup-sayup aku mendengar Ayah berkata bahwa polisi menduga perampoknya berjumlah dua orang. Mereka melarikan diri dengan motor, karena ada saksi mata yang melihat motor itu melaju kencang keluar dari kompleks perumahan siang tadi.
Deg! Jantungku berdebar kencang. Sepeda motor? Mungkinkah….Secepat kilat aku berlari. Tak kuhiraukan teguran Ayah dan Bunda saat aku berlari melewati mereka di teras depan. Aku terus saja mempercepat lariku, seolah lupa rasa sakit di lutut kaki dan lenganku. Sekilas, kulihat mobil polisi dan ambulans yang terparkir di depan rumah pak hari
Sesampai di tikungan jalan, aku menghampiri bak sampah, dan mulai mencari. Itu dia! Plat Motor itu! Untunglah benda itu masih berada di tempat di aku membuangnya tadi!
Aku segera menunjukkan benda tersebut kepada Ayah dan menceritakan kejadian siang tadi. Ayah tercengang mendengar kisahku. Setelah itu, Ayah mengantarku menuju petugas polisi yang masih berada di rumah Pak Teguh. Oleh Pak Polisi, aku diminta menceritakan kembali kejadian itu dan ciri-ciri sepeda motor serta penumpangnya dengan cermat.
Keesokan harinya, sebuah mobil polisi berhenti di depan rumahku. Bapak-bapak polisi itu mengabarkan bahwa kondisi Istri Pak Teguh sudah membaik. Melalui mereka, Pak Teguh mengucapkan terima kasih dan memimta maaf karena belum sempat datang ke rumah kami. Ia harus menjaga istrinya di rumah sakit. Yang paling membuatku bahagia adalah para perampoknya sudah tertangkap. Berkat plat nomor yang kutemukan! Pak Polisi pun mengucapkan terima kasih kepadaku dan memujiku sebagai anak yang cerdas dan pandai! Aku senang sekali!.

Gedubraakk!!
“Aduh!” Aku memekik kesakitan saat tubuh dan sepedaku terjatuh tepat di tikungan jalan menuju rumahku. Sepeda motor yang kutabrak tadi juga terjatuh. Dua orang penumpangnya terhempas ke parit di pinggir jalan. Begitu kerasnya sepeda motor itu terjatuh sehingga plat motor di bagian depannya terlepas.
“Anak kecil, kalau naik sepeda jangan melamun dong!” omel penumpang motor sambil berdiri dan memungut helmnya yang sempat terlempar.
“Mata kamu dipakai dong!” timpal pengendara motor dengan kasar sembari berdiri. Ia berjalan ke arahku dengan gerakan seperti orang hendak memukul. Namun,temannya segera menahan tangan orang itu sambil menggelegkan kepala, melarang dia memukulku.
“Ma…maaf, Om…” kataku agak takut, sambil duduk memegangi lututku karena kecelakaan itu memang salahku. Aku mengayuh sepeda terlalu kencang sehingga tidak terlihat sepeda motor yang muncul tiba-tiba dari balik tikungan.
Tanpa berkata apa-apa lagi, kedua orang itu segera kembali melajukan sepeda motornya dengan kencang. Fuuuhhh….Aku menghela nafas lega. Aku berusaha berdiri sambil menahan sakit pada kedua lutut dan lenganku.
Tiba-tiba, mataku tertuju ke arah plat motor yang tergeletak di tengah jalan. Segera aku berbalik, hendak memanggil kembali kedua orang yang kutabrak tadi. Namun, motor itu sudah tidak tampak dari pandanganku. Akhirnya kuambil plat motor itu dan membuangnya ke bak sampah di tepi jalan.
Aku mengayuh kembali sepedaku pelan-pelan. Tangan dan kakiku masih sakit sekali. Untunglah rumahku sudah dekat dari tikungan tempat kecelakaan tadi. Setiba di rumah, Bunda tampak khawatir melihat lutut dan lenganku yang berdarah. Bunda segera mengobati lukaku sambil menasehatiku agar hati-hati.
Setelah itu aku menghabiskan sepanjang siang di depan televisi. Hoaaheeeem…Aku menguap. Semilir angin dari kipas angin menghembus tubuhku, membuat mataku terpejam, dan melupakan sejenak rasa sakit lukaku.
Entah sudah berapa lama aku tertidur saat kudengar suara Ayah dan Bunda. Mereka sedang serius bercakap di teras depan tentang perampokan. Samar-samar aku menangkap pembicaraan mereka. Rumah pak Teguh, tetangga sebelah rumah, dimasuki perampok tadi siang. Rumahnya acak-acakan. Uangnya hilang dari lemari kamarnya. Istri pak Teguh terluka parah karena ulah perampok.
Hah? Terluka parah? Aku segera duduk tegak di sofa. Terbayang olehku hal-hal menyeramkan seperti yang sering aku lihat di berita kriminal di televisi. Sayup-sayup aku mendengar Ayah berkata bahwa polisi menduga perampoknya berjumlah dua orang. Mereka melarikan diri dengan motor, karena ada saksi mata yang melihat motor itu melaju kencang keluar dari kompleks perumahan siang tadi.
Deg! Jantungku berdebar kencang. Sepeda motor? Mungkinkah….Secepat kilat aku berlari. Tak kuhiraukan teguran Ayah dan Bunda saat aku berlari melewati mereka di teras depan. Aku terus saja mempercepat lariku, seolah lupa rasa sakit di lutut kaki dan lenganku. Sekilas, kulihat mobil polisi dan ambulans yang terparkir di depan rumah pak hari
Sesampai di tikungan jalan, aku menghampiri bak sampah, dan mulai mencari. Itu dia! Plat Motor itu! Untunglah benda itu masih berada di tempat di aku membuangnya tadi!
Aku segera menunjukkan benda tersebut kepada Ayah dan menceritakan kejadian siang tadi. Ayah tercengang mendengar kisahku. Setelah itu, Ayah mengantarku menuju petugas polisi yang masih berada di rumah Pak Teguh. Oleh Pak Polisi, aku diminta menceritakan kembali kejadian itu dan ciri-ciri sepeda motor serta penumpangnya dengan cermat.
Keesokan harinya, sebuah mobil polisi berhenti di depan rumahku. Bapak-bapak polisi itu mengabarkan bahwa kondisi Istri Pak Teguh sudah membaik. Melalui mereka, Pak Teguh mengucapkan terima kasih dan memimta maaf karena belum sempat datang ke rumah kami. Ia harus menjaga istrinya di rumah sakit. Yang paling membuatku bahagia adalah para perampoknya sudah tertangkap. Berkat plat nomor yang kutemukan! Pak Polisi pun mengucapkan terima kasih kepadaku dan memujiku sebagai anak yang cerdas dan pandai! Aku senang sekali!.

2 komentar: